Dua dekade desentralisasi, empat tahun Kurikulum Merdeka, dan kesenjangan yang belum tertutup “Otonomi tanpa kapasitas adalah beban, bukan kebebasan.” — Parafrase dari Wohlstetter & Odden (1992), Educational Administration Quarterly Pendahuluan: Sebuah Ironi yang Berulang Di sebuah ruang guru di pinggiran kota, tersimpan sebuah bendel dokumen tebal yang hampir tidak pernah dibuka. Di sampulnya tertera “Kurikulum Satuan Pendidikan — Tahun Ajaran 2024/2025.” Isinya hampir identik dengan dokumen sekolah tetangga, karena memang disalin dari sana, dengan perubahan nama kepala sekolah dan logo. Dokumen ini dibuat oleh satu atau dua orang, selesai dalam dua hari, lalu disimpan rapi menunggu kunjungan pengawas. Tidak ada guru yang dilibatkan. Tidak ada analisis data. Tidak ada murid yang ditanya. Ironisnya, dokumen inilah yang secara resmi disebut sebagai perwujudan otonomi sekolah. Fenomena ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ia adalah cermin d...