Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Ujian Tak Lagi Sekadar Ujian

  Catatan tentang Literasi, Numerasi, dan Masa Depan Anak Kita Suatu pagi, seorang ayah mengajak anaknya ke pasar. Mereka berhenti di sebuah kios buah. “Jeruknya manis, Pak. Seribu tiga,” kata penjual. Sang anak membuka buku catatannya. Ia menulis: Harga jeruk = 1.300 rupiah. Ayahnya tersenyum. “Kalau kita beli 2 kilo, berapa yang harus dibayar?” Anak itu terdiam. Ia menatap catatannya, lalu menatap timbangan. Wajahnya ragu. Padahal di sekolah, ia baru saja mendapat nilai 95 untuk pelajaran matematika. Kita sering menemukan ironi seperti itu. Nilai tinggi di rapor, tetapi kebingungan di kehidupan nyata. Lulus ujian, tetapi tidak selalu lulus dalam memahami persoalan sederhana. Di ruang-ruang kelas kita, anak-anak belajar dengan tekun. Mereka menghafal rumus, mengingat definisi, dan berlatih mengerjakan soal. Mereka bahkan bisa menyelesaikan puluhan soal dalam waktu singkat. Tetapi ketika soal itu berubah sedikit saja, lebih dekat dengan kehidupan, lebih kabur, l...
Postingan terbaru

KITA SEDANG MENCIPTAKAN GENERASI YANG PINTAR TAPI TAK BISA BERPIKIR

  Saatnya Literasi dan Numerasi Direbut Kembali dari Tangan Hafalan     Bayangkan seorang siswa SMA yang bisa menghitung integral dengan lancar, tetapi bingung membaca grafik inflasi di koran. Atau siswa yang fasih menghafal peristiwa sejarah, namun tidak mampu membedakan mana berita fakta dan mana opini di media sosial. Inilah potret yang, jika kita jujur, masih sangat umum dijumpai di kelas-kelas SMA Indonesia. Kita berhasil mengajarkan isi buku teks, tetapi belum berhasil mengajarkan cara berpikir. Data PISA 2022 mempertegas kekhawatiran ini: Indonesia berada di posisi ke-68 dari 81 negara dalam kompetensi membaca, dan ke-70 dalam matematika. Bukan berarti siswa kita tidak cerdas, mereka sangat cerdas. Masalahnya ada pada apa yang kita ukur dan bagaimana kita mengajarkan. Selama pembelajaran berpusat pada hafalan dan latihan soal berulang, kita tidak akan pernah benar-benar membangun literasi dan numerasi yang fungsional. Lebih dari Sekadar Memb...

Asesmen Berbasis Literasi dan Numerasi di SMA

  Membangun Kompetensi Abad ke-21 Melalui Pengukuran yang Bermakna I. PENDAHULUAN          Di tengah arus perubahan global yang semakin deras, sistem pendidikan dituntut untuk tidak sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membangun kompetensi fundamental yang memungkinkan peserta didik untuk bertahan dan berkembang dalam kehidupan nyata. Dua kompetensi yang paling esensial dalam konteks ini adalah literasi dan numerasi, kemampuan yang melampaui sekadar membaca, menulis, dan berhitung, melainkan mencakup kapasitas berpikir kritis, memahami konteks, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi yang kompleks dan beragam.        Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan jenjang pendidikan yang memiliki posisi strategis dalam membentuk fondasi intelektual generasi muda. Pada tahap ini, peserta didik berada di persimpangan antara dunia pendidikan formal dan kehidupan dewasa yang sesungguhnya, baik dalam bentuk pen...

PEMBELAJARAN BERBASIS LITERASI DAN NUMERASI di SMA: Membangun Kompetensi Berpikir Kritis Generasi Indonesia melalui Pembelajaran yang Bermakna dan Terintegrasi

  I. PENDAHULUAN                    Pendidikan yang sesungguhnya bukan sekadar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Ia adalah proses membangun manusia,   makhluk yang mampu berpikir, bertanya, merefleksikan, dan bertindak secara bijaksana di tengah kompleksitas dunia. Dalam kerangka ini, literasi dan numerasi bukan sekadar mata pelajaran atau kompetensi teknis; keduanya adalah fondasi dari seluruh kapasitas intelektual yang memungkinkan seseorang untuk terus belajar sepanjang hayat, memahami dunia melalui berbagai sistem simbol dan representasi, serta berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan bermasyarakat.               Di pentas pendidikan global, Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks. Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menempatkan Indonesia pada posisi ke-68 d...