B anten bukan provinsi kecil. Dengan lebih dari 12 juta jiwa dan posisi strategis sebagai gerbang barat Pulau Jawa, provinsi ini semestinya berdiri gagah dalam peta pendidikan nasional. Namun hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang baru saja dirilis memberi kita cermin yang tidak bisa diabaikan: Banten belum baik-baik saja. Skor SD/MI: Bahasa Indonesia 58,87 dan Matematika 41,44. Skor SMP/MTs: Bahasa Indonesia 58,76 dan Matematika 39,90. Deretan angka ini terlihat dingin dan teknis. Tapi di baliknya tersimpan kisah jutaan anak sekolah yang duduk di kelas setiap hari, mendengarkan guru, mengerjakan soal latihan, lalu tetap tidak mampu melampaui separuh dari kompetensi yang dituntut oleh kurikulumnya sendiri. Inilah ironi besar pendidikan kita: kurikulum sudah berubah, kebijakan sudah berganti, anggaran terus dikucurkan, tetapi di dalam kelas, yang terjadi masih sama seperti dua puluh tahun lalu. TKA Bukan Sekadar Ujian: Sebuah Diagnostik Sistem Sebelum me...
PENDAHULUAN: PARADOKS REFORMASI YANG TAK PERNAH TERJADI Selama lebih dari dua dekade, Indonesia telah melangsungkan sebuah eksperimen reformasi pendidikan yang ambisius, sebuah perjalanan panjang dari Kurikulum Berbasis Materi menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dimulai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, diteruskan melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka yang berlaku saat ini, setiap pergantian kurikulum selalu disertai retorika perubahan yang gagah dan harapan baru yang menggelora. Namun ada sebuah ironi pahit yang tersembunyi di balik semua pergantian itu: di dalam kelas, hampir tidak ada yang berubah. Esai kritis ini mengajukan sebuah tesis utama: bahwa reformasi kurikulum Indonesia selama dua dekade terakhir adalah reformasi di atas kertas, reformasi yang mengubah nomenklatur, dokumen, dan regulasi, tetapi gagal mengubah hal yang paling fundamental: cara guru mengajar, cara siswa belajar...