Pendahuluan
Terbitnya Panduan Kokurikuler tahun 2025 oleh Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen menandai babak baru
dalam tata kelola pembelajaran di satuan pendidikan Indonesia. Panduan ini
hadir dengan semangat yang terang: kokurikuler bukan sekadar aktivitas
tambahan, melainkan ruang belajar yang dirancang secara sistematis untuk
memperkuat delapan dimensi profil lulusan melalui pengalaman yang mindful,
meaningful, dan joyful. Namun, di tengah niat baik kebijakan
tersebut, realitas di lapangan justru memperlihatkan jurang yang
mengkhawatirkan antara ideal dan praktik. Dua persoalan mendasar mencuat:
pertama, banyak sekolah yang masih menyamakan kokurikuler dengan Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5); kedua, pelaksanaan kegiatan
kokurikuler berlangsung tanpa analisis kebutuhan yang memadai sebagaimana
diamanatkan panduan. Kedua masalah ini bukan sekadar kesalahan teknis, ia
mencerminkan krisis pemahaman konseptual yang lebih dalam tentang hakikat
pendidikan holistik itu sendiri.
Kokurikuler Bukan P5: Sebuah Kerancuan yang Mahal
Kerancuan antara kokurikuler dan P5 adalah masalah yang tampak sepele namun
sesungguhnya berdampak besar. Secara konseptual, keduanya berasal dari akar
yang berbeda. P5 lahir dalam kerangka Kurikulum Merdeka sebagai wahana
penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui projek lintas mata pelajaran yang
bersifat tematis. Sementara itu, kokurikuler sebagaimana didefinisikan dalam
panduan adalah "kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan,
pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka
pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter." Dengan demikian,
kokurikuler bersifat lebih luas cakupannya dan lebih kontekstual dalam
pendekatannya, ia tidak harus berbentuk projek, tidak harus lintas mata
pelajaran, dan dapat terintegrasi dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia
Hebat (G7KAIH) maupun cara lainnya yang berciri khas satuan pendidikan.
Namun di lapangan, banyak sekolah yang begitu terbiasa dengan mekanisme P5
hingga secara refleks mengoperasikan kokurikuler dengan cara yang sama:
membentuk kelompok, menentukan tema dari atas, lalu menghasilkan produk akhir
berupa pameran atau presentasi. Pola ini tidak salah secara prosedural, tetapi
menjadi bermasalah ketika diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan
bahwa kokurikuler memiliki landasan filosofis yang berbeda. Panduan menegaskan
bahwa kokurikuler mencakup tiga bentuk utama, pembelajaran kolaboratif lintas
disiplin ilmu, G7KAIH, dan cara lainnya, yang masing-masing memiliki alur pengembangan
tersendiri. Menyempitkan kokurikuler hanya menjadi "P5 versi baru" berarti
mengabaikan dua per tiga potensi bentuk kegiatan yang seharusnya bisa
dioptimalkan.
Lebih jauh, kerancuan ini berimplikasi pada penggunaan waktu dan sumber
daya. Jika sekolah menganggap kokurikuler identik dengan P5, maka mereka
cenderung menduplikasi proses yang sama dua kali, membebani guru dengan beban
administratif berlapis, dan, yang paling merugikan, tidak memberikan pengalaman
belajar yang benar-benar baru bagi murid. Murid pun akhirnya mengalami
kelelahan format, bukan kekayaan pengalaman.
Kegiatan Tanpa Analisis: Aktivisme yang Kehilangan Arah
Persoalan kedua bahkan lebih mengakar: banyak sekolah yang menyelenggarakan
kegiatan kokurikuler tanpa melewati tahapan analisis yang diwajibkan panduan.
Panduan secara eksplisit menetapkan bahwa perencanaan kokurikuler harus dimulai
dari analisis satuan pendidikan yang mencakup empat dimensi: kesesuaian dengan
kurikulum, minat dan bakat murid, sumber daya yang tersedia, serta kondisi
kontekstual sosial budaya setempat. Dari analisis inilah baru lahir penentuan
dimensi profil lulusan yang menjadi fokus, pemilihan tema yang relevan, dan
perancangan aktivitas yang bermakna.
Kenyataannya, tahapan ini sering dilompati. Kepala sekolah atau koordinator
kokurikuler kerap memilih kegiatan berdasarkan kebiasaan tahunan, tren yang
sedang populer, atau sekadar karena tema tersebut terdengar
"edukatif." Sebuah SD di daerah pantai bisa saja mengadakan kegiatan
bertema "literasi digital" bukan karena analisis menunjukkan
kebutuhan tersebut, melainkan karena temanya dianggap modern dan relevan dengan
zaman. Sementara itu, potensi lingkungan laut yang ada di depan mata, yang bisa
menjadi medium pembelajaran tentang kesehatan ekosistem, kewargaan lokal, atau
ketahanan pangan, dibiarkan tak tersentuh.
Panduan menggunakan contoh yang sangat ilustratif: Pak Armand dari SD
Lentera yang memilih dimensi penalaran kritis karena data menunjukkan
meningkatnya penggunaan gawai dan paparan informasi yang tidak sesuai usia
murid. Atau Bu Lina dari SMP Cinta Ilmu yang memilih dimensi kreativitas dan
kolaborasi karena data menunjukkan mayoritas orang tua berprofesi di bidang
UMKM dan pariwisata. Pengambilan keputusan berbasis data semacam ini, yang oleh
panduan disebut sebagai analisis satuan pendidikan,
justru hampir tidak pernah
dijumpai dalam praktik. Yang lebih umum terjadi adalah keputusan kolektif yang
lahir dari rapat singkat di awal tahun ajaran, tanpa dokumen analisis, tanpa
triangulasi data, dan tanpa keterlibatan murid dalam proses penentuan
kebutuhan.
Dampaknya tidak main-main. Kegiatan yang tidak berangkat dari analisis
cenderung tidak relevan bagi murid, sulit diukur keberhasilannya, dan gagal
menyentuh dimensi profil lulusan yang sesungguhnya butuh penguatan. Ironisnya,
kegiatan seperti ini justru terlihat ramai dan meriah di permukaan, ada produk,
ada foto, ada laporan, namun kosong dari makna pembelajaran yang sejati.
Contoh Pelaksanaan yang Sesuai Panduan: Dari Analisis Menuju Aksi Nyata
Untuk memperlihatkan bagaimana seharusnya kokurikuler dijalankan, berikut
disajikan tiga skenario pelaksanaan yang mencerminkan kepatuhan terhadap
prinsip-prinsip panduan secara menyeluruh — mulai dari analisis, perencanaan,
pelaksanaan, asesmen, hingga pelaporan.
Skenario 1: SD Negeri Maju Bersama: Kokurikuler Berbasis G7KAIH di
Lingkungan Perkotaan Padat
SD Negeri Maju Bersama berlokasi di kawasan padat penduduk perkotaan. Pada
awal tahun ajaran, kepala sekolah memimpin rapat tim kerja kokurikuler yang
melibatkan wali kelas I hingga VI, tenaga kependidikan, dan perwakilan komite
sekolah. Dalam rapat tersebut, tim menelaah data absensi satu tahun terakhir
dan menemukan bahwa angka ketidakhadiran karena sakit pada hari Senin dan
Selasa cukup tinggi, rata-rata 15% dari total murid. Wawancara singkat dengan
orang tua mengungkap bahwa sebagian besar murid tidur larut malam karena
menonton konten digital, akibatnya bangun kesiangan dan berangkat sekolah dalam
kondisi tidak segar.
Dari analisis ini, tim menetapkan dimensi Kesehatan dan Kemandirian
sebagai fokus kokurikuler semester pertama. Bentuk kegiatan dipilih melalui G7KAIH,
khususnya kebiasaan Bangun Pagi dan Tidur Cepat. Tema yang dirumuskan adalah "Generasi
Sehat Dimulai dari Malam yang Baik."
Koordinator kokurikuler kemudian menyusun perencanaan lengkap: guru Bahasa
Indonesia dan PJOK berkolaborasi sebagai fasilitator; orang tua dilibatkan
sebagai mitra pemantauan di rumah; puskesmas kecamatan diajak sebagai
narasumber ahli kesehatan tidur anak. Kegiatan dibuka dengan sesi diskusi kelas
tentang kebiasaan tidur murid, dilanjutkan kunjungan ke puskesmas, pembuatan
jurnal tidur harian selama empat minggu, dan diakhiri dengan presentasi murid
tentang perubahan yang mereka rasakan setelah menjalani kebiasaan baru
tersebut.
Asesmen formatif dilakukan melalui catatan anekdotal mingguan guru terhadap
kondisi murid di pagi hari. Asesmen sumatif berupa rubrik penilaian jurnal
harian dan kemampuan murid menjelaskan manfaat tidur cukup bagi kesehatan
tubuh. Hasilnya dilaporkan dalam rapor pada kolom Kokurikuler dengan deskripsi
yang menggambarkan pencapaian dimensi Kesehatan dan Kemandirian secara positif
dan spesifik, misalnya: "Ananda Rizki telah membangun kebiasaan tidur
lebih awal secara konsisten dan mampu menjelaskan hubungan antara kualitas
tidur dan konsentrasi belajar dengan baik."
Yang membedakan skenario ini dari pelaksanaan yang asal-asalan bukan pada
kemeriahan kegiatannya, melainkan pada jejak analisis yang tertulis, kemitraan
yang terencana, dan asesmen yang benar-benar mengukur perubahan kebiasaan,
bukan sekadar kehadiran dalam kegiatan.
Skenario 2: SMP Nusantara Jaya: Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin
di Daerah Pesisir
SMP Nusantara Jaya terletak di kabupaten pesisir yang sebagian besar
penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Hasil analisis satuan pendidikan
menunjukkan dua temuan penting: pertama, murid kelas VIII memiliki capaian yang
rendah pada kompetensi penalaran kritis dalam mata pelajaran IPA, khususnya
terkait pemahaman ekosistem laut; kedua, banyak murid yang tidak bangga dengan
identitas daerahnya dan cenderung ingin merantau tanpa memahami potensi lokal
yang ada.
Berdasarkan temuan ini, tim kokurikuler menetapkan fokus pada dimensi Penalaran
Kritis dan Kewargaan. Tema yang dipilih adalah "Lautku,
Hidupku, Masa Depanku" dengan bentuk pembelajaran kolaboratif
lintas disiplin ilmu yang melibatkan mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa
Indonesia, dan Seni Budaya.
Alur kegiatannya dirancang dalam tiga fase. Fase pertama adalah memahami:
murid melakukan observasi langsung ke tempat pelelangan ikan, mewawancarai
nelayan tentang perubahan hasil tangkapan dalam sepuluh tahun terakhir, dan
membaca data statistik perikanan daerah bersama guru IPA dan IPS. Fase kedua
adalah mengaplikasi: murid mengolah data hasil wawancara menjadi
infografis menggunakan aplikasi desain sederhana, sekaligus menyusun narasi
tentang dampak kerusakan terumbu karang terhadap mata pencaharian masyarakat.
Fase ketiga adalah merefleksi dan bertindak: setiap kelompok murid
merancang satu gagasan solusi, mulai dari kampanye pengurangan sampah plastik
di laut, pembuatan video edukasi untuk media sosial komunitas, hingga proposal
budidaya ikan sederhana yang disampaikan kepada kepala desa setempat.
Kemitraan dalam skenario ini berjalan nyata: nelayan senior menjadi
narasumber di kelas, kepala desa hadir dalam presentasi akhir, dan karya murid
dipublikasikan melalui akun media sosial desa. Dengan demikian, murid tidak
hanya belajar tentang laut, tetapi belajar bersama komunitas
yang hidupnya bergantung pada laut. Inilah yang dimaksud panduan ketika
menyebut kokurikuler sebagai ruang tumbuh yang otentik.
Asesmen sumatif berupa penilaian kinerja presentasi publik dengan rubrik
yang mengukur kemampuan analisis ekosistem (dimensi Penalaran Kritis) dan
kemampuan menghargai potensi lokal sebagai bagian dari identitas kebangsaan
(dimensi Kewargaan). Pelaporan di rapor mencatat secara ringkas tema kegiatan,
dimensi yang dicapai, dan deskripsi konkret kemajuan masing-masing murid.
Skenario 3: SMA Islam Al-Hikmah: Kokurikuler "Cara Lainnya"
Berbasis Nilai Keislaman
SMA Islam Al-Hikmah adalah sekolah berbasis pesantren di daerah semi-urban.
Analisis satuan pendidikan menunjukkan bahwa meskipun murid memiliki landasan
nilai keagamaan yang kuat, mereka mengalami kesulitan dalam menerjemahkan
nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan sosial nyata di lingkungan sekitar.
Dimensi Keimanan dan Ketakwaan sudah cukup kuat, namun dimensi
Kolaborasi dan Komunikasi masih perlu
penguatan signifikan.
Tim kokurikuler memilih bentuk cara lainnya berbasis nilai
khas lembaga, dengan tema "Berbagi Itu Ibadah, Bersama Itu Kuat."
Kegiatan dirancang dalam format bakti sosial terstruktur: murid kelas X dibagi
dalam kelompok-kelompok lintas kelas yang bertugas mengidentifikasi warga
sekitar sekolah yang membutuhkan bantuan, merancang bentuk bantuan yang tepat
sasaran, menggalang sumber daya dari warga sekolah dan alumni, lalu
melaksanakan kegiatan bantuan secara langsung.
Yang membedakan ini dari bakti sosial biasa adalah struktur pedagogisnya.
Sebelum kegiatan, murid mempelajari konsep filantropi dalam Islam melalui
kajian bersama ustaz sekolah, sekaligus belajar teknik wawancara kebutuhan dari
guru Bahasa Indonesia. Selama kegiatan, murid mendokumentasikan proses mereka
secara reflektif dalam jurnal harian. Setelah kegiatan, mereka mempresentasikan
pembelajaran, bukan hanya laporan kegiatan, melainkan refleksi mendalam
tentang apa yang mereka pelajari tentang diri sendiri, tentang kolaborasi, dan
tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan berbagai kalangan masyarakat.
Tokoh agama setempat dilibatkan sebagai pembimbing spiritual sekaligus
evaluator nilai keislaman dari kegiatan tersebut. Hasilnya pun dilaporkan bukan
sekadar dalam foto dokumentasi, melainkan dalam deskripsi rapor yang mencatat
pertumbuhan nyata murid pada dimensi Kolaborasi dan Komunikasi, lengkap dengan
contoh tindakan konkret yang menunjukkan pertumbuhan tersebut.
Pelajaran dari Tiga Skenario
Ketiga skenario di atas memiliki benang merah yang sama dan sekaligus
menjadi cermin bagi pelaksanaan yang tidak sesuai panduan. Pertama, semuanya
berangkat dari analisis berbasis data, bukan asumsi atau
kebiasaan. Kedua, semuanya melibatkan kemitraan yang nyata, bukan sekadar undangan narasumber formalitas, melainkan kolaborasi yang saling
memberi manfaat. Ketiga, semuanya memiliki asesmen yang relevan dengan
tujuan, bukan hanya mengukur apakah kegiatan terlaksana, tetapi
apakah dimensi profil lulusan benar-benar berkembang. Dan keempat, semuanya
menghasilkan pelaporan yang bermakna, deskripsi yang hidup
tentang pertumbuhan murid, bukan sekadar centang pada daftar kegiatan.
Kontras dengan praktik yang banyak dijumpai di lapangan, di mana
kokurikuler sering kali berarti "membuat sesuatu yang bisa difoto lalu
dilaporkan", ketiga skenario ini menempatkan murid sebagai subjek
pembelajaran yang aktif, bukan sebagai peserta kegiatan yang pasif.
Akar Masalah: Antara Kapasitas, Komunikasi, dan Kultur
Untuk berlaku adil, dua masalah di atas tidak sepenuhnya lahir dari
kelalaian atau ketidakpedulian para pendidik. Ada akar struktural yang perlu
diakui.
Pertama, sosialisasi kebijakan yang tidak merata dan tidak mendalam. Panduan
Kokurikuler 2025 adalah dokumen yang relatif baru, diterbitkan bersamaan dengan
berbagai kebijakan pendidikan lainnya yang juga membutuhkan adaptasi. Guru dan
kepala sekolah, yang sudah dibebani tugas administratif dan instruksional yang
padat, kerap hanya mendapatkan sosialisasi singkat tentang kokurikuler — cukup
untuk mengetahui bahwa "ada yang baru," namun tidak cukup untuk
memahami landasan filosofis dan teknis pelaksanaannya secara menyeluruh.
Kedua, keterbatasan kapasitas fasilitasi. Panduan mensyaratkan koordinator
kokurikuler yang mampu memimpin analisis, merancang tema lintas disiplin,
membangun kemitraan dengan masyarakat, sekaligus memastikan asesmen berjalan
relevan. Ini adalah profil kompetensi yang tinggi. Di sekolah dengan sumber
daya terbatas, terutama di daerah, sulit menemukan satu guru yang memiliki
seluruh kapasitas tersebut sekaligus.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling dalam, ada masalah kultur. Sistem
pendidikan kita telah lama terbiasa dengan pendekatan top-down dalam
perancangan kurikulum dan kegiatan sekolah. Analisis berbasis data, pengambilan
keputusan berbasis kebutuhan murid, dan fleksibilitas kontekstual adalah
nilai-nilai yang belum sepenuhnya terinternalisasi dalam praktik sehari-hari
kepemimpinan sekolah. Panduan kokurikuler menuntut pergeseran cara berpikir
yang signifikan, dari sekolah sebagai pelaksana instruksi menjadi sekolah
sebagai perancang pengalaman belajar yang kontekstual. Pergeseran ini tidak
bisa terjadi hanya dengan menerbitkan panduan, sebagus apapun isinya.
Evaluasi sebagai Bagian yang Paling Terlupakan
Dari seluruh tahapan yang diatur dalam panduan, perencanaan, pelaksanaan,
asesmen, hingga evaluasi dan tindak lanjut, bagian terakhir ini adalah yang
paling sering diabaikan. Panduan secara rinci mengatur model evaluasi berbasis
input-proses-output-outcome, namun dalam praktik, evaluasi kokurikuler hampir
tidak pernah melampaui "apakah kegiatan sudah terlaksana?" Pertanyaan
yang lebih penting, apakah dimensi profil lulusan benar-benar menguat? Apakah
ada perubahan sikap dan kebiasaan murid yang terukur? Apakah kemitraan dengan
masyarakat memberikan manfaat timbal balik?, hampir tidak pernah dijawab
secara sistematis.
Ketiadaan evaluasi yang bermakna ini menciptakan lingkaran setan: kegiatan
yang tidak efektif terus diulang karena tidak ada data yang menunjukkan
inefektivitasnya. Sementara itu, kegiatan yang berhasil pun tidak dapat
direplikasi atau dikembangkan karena tidak ada dokumentasi tentang
faktor-faktor yang membuatnya berhasil. Berbanding terbalik dengan ketiga
skenario di atas, di mana setiap kegiatan meninggalkan jejak evaluatif yang
bisa menjadi bahan perbaikan nyata pada siklus berikutnya.
Rekomendasi: Dari Panduan Menuju Praktik
Menutup celah antara panduan dan praktik membutuhkan intervensi yang
berlapis. Pada tingkat kebijakan, perlu ada mekanisme pendampingan yang lebih
intensif dan berkelanjutan, bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan
coaching dan mentoring yang memungkinkan sekolah mempraktikkan siklus
perencanaan-pelaksanaan-evaluasi secara terbimbing, dengan mengacu pada
contoh-contoh kongkret seperti ketiga skenario di atas.
Di tingkat satuan pendidikan, kepala sekolah perlu membangun budaya
pengambilan keputusan berbasis data sejak dari rapat perencanaan awal tahun.
Analisis kebutuhan harus diperlakukan sebagai dokumen kerja yang hidup, bukan
formalitas administratif. Pada tingkat guru, diperlukan penguatan pemahaman
tentang perbedaan mendasar antara kokurikuler dan P5, bukan hanya secara
definitif tetapi melalui simulasi perancangan kegiatan yang membumikan
perbedaan tersebut secara praktis. Dan pada tingkat murid, mereka perlu
dilibatkan sejak awal dalam proses identifikasi kebutuhan, karena panduan
sendiri menegaskan bahwa kokurikuler berangkat dari potensi dan kekuatan murid
serta lingkungannya sebagai titik tolak.
Penutup
Kokurikuler dalam visi Panduan 2025 adalah sesuatu yang indah: ruang di mana
murid tidak hanya belajar apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana
pengetahuan itu membentuk kehidupan mereka. Ia adalah jembatan antara kelas dan
dunia nyata, antara kompetensi akademik dan karakter yang hidup. Ketiga
skenario yang dipaparkan di atas membuktikan bahwa visi tersebut bukan utopia, ia dapat diwujudkan, dengan syarat sekolah mau dan mampu bergerak dari zona
nyaman formalitas menuju keberanian merancang pembelajaran yang benar-benar
bermakna.
Namun jembatan yang indah tidak berguna jika orang tidak tahu cara
menyeberanginya, atau lebih parah, jika mereka tidak sadar bahwa ada sisi lain
yang perlu dijangkau. Menyamakan kokurikuler dengan P5 dan menyelenggarakan
kegiatan tanpa analisis adalah dua cara paling cepat untuk mengerdilkan potensi
besar yang ditawarkan kebijakan ini. Sudah saatnya satuan pendidikan, dengan
dukungan penuh dari pengambil kebijakan, berhenti bertanya "kegiatan
apa yang bisa kami lakukan?" dan mulai bertanya "pengalaman
belajar apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan murid kami, dan bagaimana kami
merancangnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab?"
Jawabannya ada di panduan. Kini giliran praktik yang berbicara.
Komentar