Langsung ke konten utama

Kerancuan Implementasi Kokurikuler di Sekolah: Antara Panduan dan Praktik Lapangan

 

Pendahuluan

Terbitnya Panduan Kokurikuler tahun 2025 oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen menandai babak baru dalam tata kelola pembelajaran di satuan pendidikan Indonesia. Panduan ini hadir dengan semangat yang terang: kokurikuler bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan ruang belajar yang dirancang secara sistematis untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan melalui pengalaman yang mindful, meaningful, dan joyful. Namun, di tengah niat baik kebijakan tersebut, realitas di lapangan justru memperlihatkan jurang yang mengkhawatirkan antara ideal dan praktik. Dua persoalan mendasar mencuat: pertama, banyak sekolah yang masih menyamakan kokurikuler dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5); kedua, pelaksanaan kegiatan kokurikuler berlangsung tanpa analisis kebutuhan yang memadai sebagaimana diamanatkan panduan. Kedua masalah ini bukan sekadar kesalahan teknis, ia mencerminkan krisis pemahaman konseptual yang lebih dalam tentang hakikat pendidikan holistik itu sendiri.


Kokurikuler Bukan P5: Sebuah Kerancuan yang Mahal

Kerancuan antara kokurikuler dan P5 adalah masalah yang tampak sepele namun sesungguhnya berdampak besar. Secara konseptual, keduanya berasal dari akar yang berbeda. P5 lahir dalam kerangka Kurikulum Merdeka sebagai wahana penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui projek lintas mata pelajaran yang bersifat tematis. Sementara itu, kokurikuler sebagaimana didefinisikan dalam panduan adalah "kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter." Dengan demikian, kokurikuler bersifat lebih luas cakupannya dan lebih kontekstual dalam pendekatannya, ia tidak harus berbentuk projek, tidak harus lintas mata pelajaran, dan dapat terintegrasi dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) maupun cara lainnya yang berciri khas satuan pendidikan.

Namun di lapangan, banyak sekolah yang begitu terbiasa dengan mekanisme P5 hingga secara refleks mengoperasikan kokurikuler dengan cara yang sama: membentuk kelompok, menentukan tema dari atas, lalu menghasilkan produk akhir berupa pameran atau presentasi. Pola ini tidak salah secara prosedural, tetapi menjadi bermasalah ketika diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan bahwa kokurikuler memiliki landasan filosofis yang berbeda. Panduan menegaskan bahwa kokurikuler mencakup tiga bentuk utama, pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, G7KAIH, dan cara lainnya,  yang masing-masing memiliki alur pengembangan tersendiri. Menyempitkan kokurikuler hanya menjadi "P5 versi baru" berarti mengabaikan dua per tiga potensi bentuk kegiatan yang seharusnya bisa dioptimalkan.

Lebih jauh, kerancuan ini berimplikasi pada penggunaan waktu dan sumber daya. Jika sekolah menganggap kokurikuler identik dengan P5, maka mereka cenderung menduplikasi proses yang sama dua kali, membebani guru dengan beban administratif berlapis, dan, yang paling merugikan, tidak memberikan pengalaman belajar yang benar-benar baru bagi murid. Murid pun akhirnya mengalami kelelahan format, bukan kekayaan pengalaman.


Kegiatan Tanpa Analisis: Aktivisme yang Kehilangan Arah

Persoalan kedua bahkan lebih mengakar: banyak sekolah yang menyelenggarakan kegiatan kokurikuler tanpa melewati tahapan analisis yang diwajibkan panduan. Panduan secara eksplisit menetapkan bahwa perencanaan kokurikuler harus dimulai dari analisis satuan pendidikan yang mencakup empat dimensi: kesesuaian dengan kurikulum, minat dan bakat murid, sumber daya yang tersedia, serta kondisi kontekstual sosial budaya setempat. Dari analisis inilah baru lahir penentuan dimensi profil lulusan yang menjadi fokus, pemilihan tema yang relevan, dan perancangan aktivitas yang bermakna.

Kenyataannya, tahapan ini sering dilompati. Kepala sekolah atau koordinator kokurikuler kerap memilih kegiatan berdasarkan kebiasaan tahunan, tren yang sedang populer, atau sekadar karena tema tersebut terdengar "edukatif." Sebuah SD di daerah pantai bisa saja mengadakan kegiatan bertema "literasi digital" bukan karena analisis menunjukkan kebutuhan tersebut, melainkan karena temanya dianggap modern dan relevan dengan zaman. Sementara itu, potensi lingkungan laut yang ada di depan mata, yang bisa menjadi medium pembelajaran tentang kesehatan ekosistem, kewargaan lokal, atau ketahanan pangan, dibiarkan tak tersentuh.

Panduan menggunakan contoh yang sangat ilustratif: Pak Armand dari SD Lentera yang memilih dimensi penalaran kritis karena data menunjukkan meningkatnya penggunaan gawai dan paparan informasi yang tidak sesuai usia murid. Atau Bu Lina dari SMP Cinta Ilmu yang memilih dimensi kreativitas dan kolaborasi karena data menunjukkan mayoritas orang tua berprofesi di bidang UMKM dan pariwisata. Pengambilan keputusan berbasis data semacam ini, yang oleh panduan disebut sebagai analisis satuan pendidikan,  justru hampir tidak pernah dijumpai dalam praktik. Yang lebih umum terjadi adalah keputusan kolektif yang lahir dari rapat singkat di awal tahun ajaran, tanpa dokumen analisis, tanpa triangulasi data, dan tanpa keterlibatan murid dalam proses penentuan kebutuhan.

Dampaknya tidak main-main. Kegiatan yang tidak berangkat dari analisis cenderung tidak relevan bagi murid, sulit diukur keberhasilannya, dan gagal menyentuh dimensi profil lulusan yang sesungguhnya butuh penguatan. Ironisnya, kegiatan seperti ini justru terlihat ramai dan meriah di permukaan, ada produk, ada foto, ada laporan, namun kosong dari makna pembelajaran yang sejati.

 

Contoh Pelaksanaan yang Sesuai Panduan: Dari Analisis Menuju Aksi Nyata

Untuk memperlihatkan bagaimana seharusnya kokurikuler dijalankan, berikut disajikan tiga skenario pelaksanaan yang mencerminkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip panduan secara menyeluruh — mulai dari analisis, perencanaan, pelaksanaan, asesmen, hingga pelaporan.

Skenario 1: SD Negeri Maju Bersama: Kokurikuler Berbasis G7KAIH di Lingkungan Perkotaan Padat

SD Negeri Maju Bersama berlokasi di kawasan padat penduduk perkotaan. Pada awal tahun ajaran, kepala sekolah memimpin rapat tim kerja kokurikuler yang melibatkan wali kelas I hingga VI, tenaga kependidikan, dan perwakilan komite sekolah. Dalam rapat tersebut, tim menelaah data absensi satu tahun terakhir dan menemukan bahwa angka ketidakhadiran karena sakit pada hari Senin dan Selasa cukup tinggi, rata-rata 15% dari total murid. Wawancara singkat dengan orang tua mengungkap bahwa sebagian besar murid tidur larut malam karena menonton konten digital, akibatnya bangun kesiangan dan berangkat sekolah dalam kondisi tidak segar.

Dari analisis ini, tim menetapkan dimensi Kesehatan dan Kemandirian sebagai fokus kokurikuler semester pertama. Bentuk kegiatan dipilih melalui G7KAIH, khususnya kebiasaan Bangun Pagi dan Tidur Cepat. Tema yang dirumuskan adalah "Generasi Sehat Dimulai dari Malam yang Baik."

Koordinator kokurikuler kemudian menyusun perencanaan lengkap: guru Bahasa Indonesia dan PJOK berkolaborasi sebagai fasilitator; orang tua dilibatkan sebagai mitra pemantauan di rumah; puskesmas kecamatan diajak sebagai narasumber ahli kesehatan tidur anak. Kegiatan dibuka dengan sesi diskusi kelas tentang kebiasaan tidur murid, dilanjutkan kunjungan ke puskesmas, pembuatan jurnal tidur harian selama empat minggu, dan diakhiri dengan presentasi murid tentang perubahan yang mereka rasakan setelah menjalani kebiasaan baru tersebut.

Asesmen formatif dilakukan melalui catatan anekdotal mingguan guru terhadap kondisi murid di pagi hari. Asesmen sumatif berupa rubrik penilaian jurnal harian dan kemampuan murid menjelaskan manfaat tidur cukup bagi kesehatan tubuh. Hasilnya dilaporkan dalam rapor pada kolom Kokurikuler dengan deskripsi yang menggambarkan pencapaian dimensi Kesehatan dan Kemandirian secara positif dan spesifik, misalnya: "Ananda Rizki telah membangun kebiasaan tidur lebih awal secara konsisten dan mampu menjelaskan hubungan antara kualitas tidur dan konsentrasi belajar dengan baik."

Yang membedakan skenario ini dari pelaksanaan yang asal-asalan bukan pada kemeriahan kegiatannya, melainkan pada jejak analisis yang tertulis, kemitraan yang terencana, dan asesmen yang benar-benar mengukur perubahan kebiasaan, bukan sekadar kehadiran dalam kegiatan.

 

Skenario 2: SMP Nusantara Jaya: Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin di Daerah Pesisir

SMP Nusantara Jaya terletak di kabupaten pesisir yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Hasil analisis satuan pendidikan menunjukkan dua temuan penting: pertama, murid kelas VIII memiliki capaian yang rendah pada kompetensi penalaran kritis dalam mata pelajaran IPA, khususnya terkait pemahaman ekosistem laut; kedua, banyak murid yang tidak bangga dengan identitas daerahnya dan cenderung ingin merantau tanpa memahami potensi lokal yang ada.

Berdasarkan temuan ini, tim kokurikuler menetapkan fokus pada dimensi Penalaran Kritis dan Kewargaan. Tema yang dipilih adalah "Lautku, Hidupku, Masa Depanku" dengan bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang melibatkan mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya.

Alur kegiatannya dirancang dalam tiga fase. Fase pertama adalah memahami: murid melakukan observasi langsung ke tempat pelelangan ikan, mewawancarai nelayan tentang perubahan hasil tangkapan dalam sepuluh tahun terakhir, dan membaca data statistik perikanan daerah bersama guru IPA dan IPS. Fase kedua adalah mengaplikasi: murid mengolah data hasil wawancara menjadi infografis menggunakan aplikasi desain sederhana, sekaligus menyusun narasi tentang dampak kerusakan terumbu karang terhadap mata pencaharian masyarakat. Fase ketiga adalah merefleksi dan bertindak: setiap kelompok murid merancang satu gagasan solusi, mulai dari kampanye pengurangan sampah plastik di laut, pembuatan video edukasi untuk media sosial komunitas, hingga proposal budidaya ikan sederhana yang disampaikan kepada kepala desa setempat.

Kemitraan dalam skenario ini berjalan nyata: nelayan senior menjadi narasumber di kelas, kepala desa hadir dalam presentasi akhir, dan karya murid dipublikasikan melalui akun media sosial desa. Dengan demikian, murid tidak hanya belajar tentang laut, tetapi belajar bersama komunitas yang hidupnya bergantung pada laut. Inilah yang dimaksud panduan ketika menyebut kokurikuler sebagai ruang tumbuh yang otentik.

Asesmen sumatif berupa penilaian kinerja presentasi publik dengan rubrik yang mengukur kemampuan analisis ekosistem (dimensi Penalaran Kritis) dan kemampuan menghargai potensi lokal sebagai bagian dari identitas kebangsaan (dimensi Kewargaan). Pelaporan di rapor mencatat secara ringkas tema kegiatan, dimensi yang dicapai, dan deskripsi konkret kemajuan masing-masing murid.


Skenario 3:  SMA Islam Al-Hikmah: Kokurikuler "Cara Lainnya" Berbasis Nilai Keislaman

SMA Islam Al-Hikmah adalah sekolah berbasis pesantren di daerah semi-urban. Analisis satuan pendidikan menunjukkan bahwa meskipun murid memiliki landasan nilai keagamaan yang kuat, mereka mengalami kesulitan dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan sosial nyata di lingkungan sekitar. Dimensi Keimanan dan Ketakwaan sudah cukup kuat, namun dimensi Kolaborasi dan Komunikasi masih perlu penguatan signifikan.

Tim kokurikuler memilih bentuk cara lainnya berbasis nilai khas lembaga, dengan tema "Berbagi Itu Ibadah, Bersama Itu Kuat." Kegiatan dirancang dalam format bakti sosial terstruktur: murid kelas X dibagi dalam kelompok-kelompok lintas kelas yang bertugas mengidentifikasi warga sekitar sekolah yang membutuhkan bantuan, merancang bentuk bantuan yang tepat sasaran, menggalang sumber daya dari warga sekolah dan alumni, lalu melaksanakan kegiatan bantuan secara langsung.

Yang membedakan ini dari bakti sosial biasa adalah struktur pedagogisnya. Sebelum kegiatan, murid mempelajari konsep filantropi dalam Islam melalui kajian bersama ustaz sekolah, sekaligus belajar teknik wawancara kebutuhan dari guru Bahasa Indonesia. Selama kegiatan, murid mendokumentasikan proses mereka secara reflektif dalam jurnal harian. Setelah kegiatan, mereka mempresentasikan pembelajaran, bukan hanya laporan kegiatan, melainkan refleksi mendalam tentang apa yang mereka pelajari tentang diri sendiri, tentang kolaborasi, dan tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan berbagai kalangan masyarakat.

Tokoh agama setempat dilibatkan sebagai pembimbing spiritual sekaligus evaluator nilai keislaman dari kegiatan tersebut. Hasilnya pun dilaporkan bukan sekadar dalam foto dokumentasi, melainkan dalam deskripsi rapor yang mencatat pertumbuhan nyata murid pada dimensi Kolaborasi dan Komunikasi, lengkap dengan contoh tindakan konkret yang menunjukkan pertumbuhan tersebut.


Pelajaran dari Tiga Skenario

Ketiga skenario di atas memiliki benang merah yang sama dan sekaligus menjadi cermin bagi pelaksanaan yang tidak sesuai panduan. Pertama, semuanya berangkat dari analisis berbasis data, bukan asumsi atau kebiasaan. Kedua, semuanya melibatkan kemitraan yang nyata, bukan sekadar undangan narasumber formalitas, melainkan kolaborasi yang saling memberi manfaat. Ketiga, semuanya memiliki asesmen yang relevan dengan tujuan, bukan hanya mengukur apakah kegiatan terlaksana, tetapi apakah dimensi profil lulusan benar-benar berkembang. Dan keempat, semuanya menghasilkan pelaporan yang bermakna, deskripsi yang hidup tentang pertumbuhan murid, bukan sekadar centang pada daftar kegiatan.

Kontras dengan praktik yang banyak dijumpai di lapangan, di mana kokurikuler sering kali berarti "membuat sesuatu yang bisa difoto lalu dilaporkan", ketiga skenario ini menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran yang aktif, bukan sebagai peserta kegiatan yang pasif.


Akar Masalah: Antara Kapasitas, Komunikasi, dan Kultur

Untuk berlaku adil, dua masalah di atas tidak sepenuhnya lahir dari kelalaian atau ketidakpedulian para pendidik. Ada akar struktural yang perlu diakui.

Pertama, sosialisasi kebijakan yang tidak merata dan tidak mendalam. Panduan Kokurikuler 2025 adalah dokumen yang relatif baru, diterbitkan bersamaan dengan berbagai kebijakan pendidikan lainnya yang juga membutuhkan adaptasi. Guru dan kepala sekolah, yang sudah dibebani tugas administratif dan instruksional yang padat, kerap hanya mendapatkan sosialisasi singkat tentang kokurikuler — cukup untuk mengetahui bahwa "ada yang baru," namun tidak cukup untuk memahami landasan filosofis dan teknis pelaksanaannya secara menyeluruh.

Kedua, keterbatasan kapasitas fasilitasi. Panduan mensyaratkan koordinator kokurikuler yang mampu memimpin analisis, merancang tema lintas disiplin, membangun kemitraan dengan masyarakat, sekaligus memastikan asesmen berjalan relevan. Ini adalah profil kompetensi yang tinggi. Di sekolah dengan sumber daya terbatas, terutama di daerah, sulit menemukan satu guru yang memiliki seluruh kapasitas tersebut sekaligus.

Ketiga, dan ini mungkin yang paling dalam, ada masalah kultur. Sistem pendidikan kita telah lama terbiasa dengan pendekatan top-down dalam perancangan kurikulum dan kegiatan sekolah. Analisis berbasis data, pengambilan keputusan berbasis kebutuhan murid, dan fleksibilitas kontekstual adalah nilai-nilai yang belum sepenuhnya terinternalisasi dalam praktik sehari-hari kepemimpinan sekolah. Panduan kokurikuler menuntut pergeseran cara berpikir yang signifikan, dari sekolah sebagai pelaksana instruksi menjadi sekolah sebagai perancang pengalaman belajar yang kontekstual. Pergeseran ini tidak bisa terjadi hanya dengan menerbitkan panduan, sebagus apapun isinya.


Evaluasi sebagai Bagian yang Paling Terlupakan

Dari seluruh tahapan yang diatur dalam panduan, perencanaan, pelaksanaan, asesmen, hingga evaluasi dan tindak lanjut, bagian terakhir ini adalah yang paling sering diabaikan. Panduan secara rinci mengatur model evaluasi berbasis input-proses-output-outcome, namun dalam praktik, evaluasi kokurikuler hampir tidak pernah melampaui "apakah kegiatan sudah terlaksana?" Pertanyaan yang lebih penting, apakah dimensi profil lulusan benar-benar menguat? Apakah ada perubahan sikap dan kebiasaan murid yang terukur? Apakah kemitraan dengan masyarakat memberikan manfaat timbal balik?, hampir tidak pernah dijawab secara sistematis.

Ketiadaan evaluasi yang bermakna ini menciptakan lingkaran setan: kegiatan yang tidak efektif terus diulang karena tidak ada data yang menunjukkan inefektivitasnya. Sementara itu, kegiatan yang berhasil pun tidak dapat direplikasi atau dikembangkan karena tidak ada dokumentasi tentang faktor-faktor yang membuatnya berhasil. Berbanding terbalik dengan ketiga skenario di atas, di mana setiap kegiatan meninggalkan jejak evaluatif yang bisa menjadi bahan perbaikan nyata pada siklus berikutnya.


Rekomendasi: Dari Panduan Menuju Praktik

Menutup celah antara panduan dan praktik membutuhkan intervensi yang berlapis. Pada tingkat kebijakan, perlu ada mekanisme pendampingan yang lebih intensif dan berkelanjutan, bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan coaching dan mentoring yang memungkinkan sekolah mempraktikkan siklus perencanaan-pelaksanaan-evaluasi secara terbimbing, dengan mengacu pada contoh-contoh kongkret seperti ketiga skenario di atas.

Di tingkat satuan pendidikan, kepala sekolah perlu membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data sejak dari rapat perencanaan awal tahun. Analisis kebutuhan harus diperlakukan sebagai dokumen kerja yang hidup, bukan formalitas administratif. Pada tingkat guru, diperlukan penguatan pemahaman tentang perbedaan mendasar antara kokurikuler dan P5, bukan hanya secara definitif tetapi melalui simulasi perancangan kegiatan yang membumikan perbedaan tersebut secara praktis. Dan pada tingkat murid, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses identifikasi kebutuhan, karena panduan sendiri menegaskan bahwa kokurikuler berangkat dari potensi dan kekuatan murid serta lingkungannya sebagai titik tolak.


Penutup

Kokurikuler dalam visi Panduan 2025 adalah sesuatu yang indah: ruang di mana murid tidak hanya belajar apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana pengetahuan itu membentuk kehidupan mereka. Ia adalah jembatan antara kelas dan dunia nyata, antara kompetensi akademik dan karakter yang hidup. Ketiga skenario yang dipaparkan di atas membuktikan bahwa visi tersebut bukan utopia, ia dapat diwujudkan, dengan syarat sekolah mau dan mampu bergerak dari zona nyaman formalitas menuju keberanian merancang pembelajaran yang benar-benar bermakna.

Namun jembatan yang indah tidak berguna jika orang tidak tahu cara menyeberanginya, atau lebih parah, jika mereka tidak sadar bahwa ada sisi lain yang perlu dijangkau. Menyamakan kokurikuler dengan P5 dan menyelenggarakan kegiatan tanpa analisis adalah dua cara paling cepat untuk mengerdilkan potensi besar yang ditawarkan kebijakan ini. Sudah saatnya satuan pendidikan, dengan dukungan penuh dari pengambil kebijakan, berhenti bertanya "kegiatan apa yang bisa kami lakukan?" dan mulai bertanya "pengalaman belajar apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan murid kami, dan bagaimana kami merancangnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab?"

Jawabannya ada di panduan. Kini giliran praktik yang berbicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBELAJARAN BERBASIS LITERASI DAN NUMERASI di SMA: Membangun Kompetensi Berpikir Kritis Generasi Indonesia melalui Pembelajaran yang Bermakna dan Terintegrasi

  I. PENDAHULUAN                    Pendidikan yang sesungguhnya bukan sekadar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Ia adalah proses membangun manusia,   makhluk yang mampu berpikir, bertanya, merefleksikan, dan bertindak secara bijaksana di tengah kompleksitas dunia. Dalam kerangka ini, literasi dan numerasi bukan sekadar mata pelajaran atau kompetensi teknis; keduanya adalah fondasi dari seluruh kapasitas intelektual yang memungkinkan seseorang untuk terus belajar sepanjang hayat, memahami dunia melalui berbagai sistem simbol dan representasi, serta berpartisipasi secara bermakna dalam kehidupan bermasyarakat.               Di pentas pendidikan global, Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks. Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menempatkan Indonesia pada posisi ke-68 d...

Peluncuran Buku Menyulam Cahaya di padasuka.

Bertepatan dengan Reuni Akbar Lintas Angkatan SMA Negri 4 Tangerang (d/h SMAN 3) dan Perayaan Ulang Tahun ke 40 SMA Negeri 4 Tangerang telah diluncurkan buku perjalanan 40 tahun SMAN 4 Tangerang berjudul Menyulam Cahaya di Padasuka .  Dari SMA Negeri 3 Tangerang ke SMA Negeri 4 Tangerang: Perjalanan 40 Tahun Membangun Generasi Unggul. Peluncuran dihadiri oleh alumni mulai dari angkatan pertama yang lulus tahun 1987 sampai angkatan 2025, guru dan pegawai yang pernah mengabdi, guru yang masih aktif dan Wakil Walikota Tangerang, H. Maryono Hasan, yang juga merupakan alumni tahun 1993. Menyulam Cahaya di Padasuka adalah karya monumental yang tidak hanya menyimpan sejarah institusi pendidikan, tetapi juga menegaskan identitas dan nilai luhur yang diwariskan lintas generasi. Buku ini menjadi saksi perjalanan dari keterbatasan menuju keunggulan, dari tanah Padasuka yang sederhana menuju sekolah berprestasi dan Sekolah Penggerak. Ia layak dibaca oleh siapa pun yang percaya bahwa pendidika...

Mengapa Mutu Pendidikan Indonesia Tak Kunjung Membaik: Menggugat Akar Permasalahan yang Terabaikan

Pendidikan Indonesia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Fakta ini bukan sekadar asumsi pesimistis, melainkan realitas yang terdokumentasi dalam berbagai indikator internasional dan nasional. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa skor Indonesia dalam kemampuan membaca mencapai 359, matematika 366, dan sains 383—seluruhnya terpaut lebih dari 100 poin dari rata-rata global. Meskipun peringkat Indonesia naik 5-6 posisi dari tahun 2018, kenaikan ini lebih disebabkan oleh penurunan drastis negara-negara lain akibat pandemi, bukan karena perbaikan substansial kualitas pembelajaran kita. Yang lebih memprihatinkan, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level 5-6 (tingkat kemahiran tertinggi) dalam ketiga aspek yang diujikan. Rendahnya mutu pendidikan tidak hanya tampak dari capaian akademik. Dimensi non-akademik pun menunjukkan potret yang sama kelamnya. Sepanjang tahun 2024, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 5...