A.
Pendahuluan
Perkembangan pesat teknologi AI
telah mengubah cara kita hidup dan bekerja. Dari sektor kesehatan hingga
industri, AI telah menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Dunia pendidikan pun tak ketinggalan. Dengan kemampuannya dalam memproses data
dan belajar dari pengalaman, AI menawarkan peluang untuk merevolusi cara kita
belajar dan mengajar. Pembelajaran yang dipersonalisasi, penilaian yang lebih
efektif, dan pengalaman belajar yang lebih interaktif adalah beberapa contoh
manfaat yang dapat kita peroleh dari penerapan AI dalam pendidikan.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan
diantaranya membantu guru dalam
menyelesaikan masalah kewajiban administratif, mempersiapkan bahan ajar dan
media pembelajaran, merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan
peserta didik, pembelajaran dan penilaian adaptif. Sudah menjadi masalah umum
di kalangan guru bahwa salah satu kendala
atau kecemasan pada profesi guru adalah masalah administrasi dan asesmen. Bukan
menjadi hal yang rahasia lagi bahwa kekhawatiran menjadi guru adalah salah
satunya diharuskannya memenuhi banyaknya administrasi yang diperlukan. Hal ini
sesuai dengan pernyataan dari Krissandi, A. D. S., & Rusmawan, R. (2015),
bahwa permasalahan administrasi guru yang dirasa banyak ini telah menjadi
polemik sejak KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diberlakukan
pada 2006, dan permasalahan ini masih terasa membebani guru di kurikulum 2024
yang dikenal sebagai kurikulum merdeka.
Administrasi guru penting dalam
pembelajaran. Dengan adanya administrasi seperti ATP dan modul ajar, sistem
pembelajaran akan menjadi lebih tersusun, sistematis, dan lebih tergambar
tujuan yang ingin dicapai pada setiap pertemuan mengajarnya. Seperti yang
dinyatakan oleh Warsah, I., & Nuzuar, N. (2018), bahwa administrasi
pembelajaran merupakan hal yang penting bagi guru karena di dalamnya memuat
perencanaan rinci mengenai apa-apa saja hal yang dilakukan oleh guru untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Namun, fakta di lapangan tidak semua guru
memiliki kemampuan yang baik dalam membuat dan memenuhi administrasi itu.
Bahkan, tidak hanya masalah usia yang menjadi penyebabnya, karena banyak guru
muda yang merasa kesulitan dengan beban administrasi ini, dan tidak menutup
kemungkinan, hal ini juga terjadi pada guru senior.
Pada tahun pembelajaran 2024/2025,
pemerintah menerapkan kurikulum baru yang dikenal sebagai Kurikulum Merdeka.
Kurikulum ini telah diterapkan pada tahun pelajaran 2021/2022 di beberapa
sekolah yang dikenal sebagai Sekolah Penggerak. Kurikulum Merdeka didesain agar
peserta didik dapat memperoleh proses pembelajaran yang menyenangkan, santai,
nyaman, aman, bebas dari tekanan, dan menggali serta mengembangkan potensi yang
dimilikinya (Rahayu et al., 2022). Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar
Dewantara tentang kodrat alam melalui Kurikulum Merdeka. Konsep Kurikulum
Merdeka membebaskan guru untuk membuat keputusan-keputusan penting terhadap
pemilihan, pengelolaan, desain, dan implementasi proses pembelajaran di dalam
kelas (Fauzan dan Arifin, 2022). Sehingga, dalam pembelajaran, fokus tidak lagi
pada guru, melainkan peserta didik. Sekolah sebagai tempat menumbuhkan peserta
didik sesuai dengan keunikannya masing-masing dalam mencapai potensi
terbaiknya.
Pembelajaran dengan paradigma baru
merupakan salah satu perubahan terpenting yang dihadirkan oleh Kurikulum
Merdeka. Paradigma ini menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses
pembelajaran, memungkinkan pendidik untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan
asesmen sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan individu peserta didik.
Konsep ini dikenal sebagai Teaching at the Right Level (TaRL)
yang menekankan pentingnya menyesuaikan proses belajar dengan kesiapan dan potensi
peserta didik. Pada paradigma baru pembelajaran, guru memiliki kuasa untuk
merancang proses pembelajarannya sendiri dan membuat asesmen yang disesuaikan
dengan karakter peserta didik dan merumuskan pendekatan proses pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Aprima dan Sasmita, 2022).
Implementasi pendekatan TaRL yang
digunakan oleh guru diawali dengan melakukan asesmen diagnostik pada peserta
didik sehingga guru dapat mengetahui karakteristik dan kemampuan yang dimiliki
peserta didik, sehingga guru dapat menentukan pengembangan kemampuan yang harus
dimiliki oleh peserta didik (Suharyani et al., 2023). TaRL (Teaching at The Right Level) merupakan
pendekatan yang berorientasi pada peserta didik sehingga pelaksanaan
pembelajaran dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta
didik, bukan berdasarkan usia atau tingkatan kelas. Kemampuan ini kemudian
digolongkan menjadi rendah, sedang, dan tinggi (Ahyar et al., 2022).
Menurut perspektif Ismail dan
Zakiah yang dikutip oleh Sapetro, Rakhmawati, dan Sunarno (2024), pendekatan
Teaching at The Right Level (TaRL)
merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan pencapaian peserta didik
dan berupaya memfasilitasi penguasaan kompetensi mata pelajaran oleh peserta
didik. Pendekatan TaRL bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memperluas
pengetahuan dan memperkuat keterampilan mereka. Guru yang menggunakan
pendekatan pembelajaran TaRL harus memperlakukan peserta didik secara adil
dengan mengalokasikan sumber daya berdasarkan kebutuhan belajar masing-masing
peserta didik. TaRL dapat membantu peserta didik memahami isi pelajaran dengan
cara sebaik mungkin. TaRL merupakan strategi pembelajaran yang mempertimbangkan
tingkat pencapaian atau bakat yang dimiliki setiap peserta didik dan membantu
peserta didik mendapatkan orientasi sehingga mereka dapat melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam pembelajaran yang tidak
memperhatikan kemampuan peserta didik, mereka, peserta didik yang belum
memiliki kemampuan awal sesuai kebutuhan materi yang akan dipelajari, akan
kesulitan mengikuti pembelajaran. Peserta didik cenderung kehilangan motivasi
belajar, bahkan frustasi, yang berakibat pada kegagalan memenuhi standar yang
telah ditetapkan. Agar peserta didik
tidak patah semangat dan merasa gagal dalam proses pembelajaran, maka guru
melakukan diferensiasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, minat, dan bakat
masing-masing peserta didik (Tomlinson, 2017). Tujuan dari pembelajaran
diferensiasi adalah memberikan pembelajaran yang setiap langkah prosesnya
sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Menurut pendapat Maryam (2021) yang
dikutip oleh Sindy Dwi Jayanti, Agus Suprijono, dan M. Jacky (2023), kebutuhan
belajar peserta didik meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar.
Landasan kesiapan belajar adalah pengetahuan dan kemampuan awal atau pemahaman
materi prasyarat yang dimiliki peserta didik. Motivasi belajar peserta didik
merupakan salah satu bagian dari minat belajar.
Pembelajaran berdiferensiasi hadir
untuk mengatasi perbedaan individu dalam kemampuan, minat, dan gaya belajar
peserta didik. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ini guru berperan sebagai
fasilitator dan pengelola belajar. Mereka bertanggung jawab untuk mengetahui
dan memahami kebutuhan setiap peserta didik, serta menyediakan pengalaman
belajar yang sesuai. Guru juga menggunakan berbagai strategi dan metode
pengajaran yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan individu peserta didik.
Menurut Kristiani, dkk. (2021),
dalam penerapan pembelajaran diferensiasi, guru dapat memetakan kebutuhan
belajar peserta didik berdasarkan kesiapan belajar, gaya belajar, dan minat
peserta didik. Kemudian, guru dapat mengkreasikannya dalam isi/konten
pembelajaran, produk, maupun dalam proses pembelajaran yang berlangsung sesuai
kebutuhan peserta didik. Namun, pada kenyataannya, masih sedikit guru yang
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas. Guru kerap kali
memberikan pembelajaran secara umum, tanpa mempertimbangkan perbedaan individu
di dalam kelas. Hal ini dapat menyebabkan beberapa peserta didik merasa
tertinggal atau tidak tertantang secara optimal.
Keengganan sebagian besar guru
untuk menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi disebabkan oleh
banyaknya kendala yang dihadapi. Beberapa kendala tersebut adalah:
- Beban kerja guru yang meningkat: Menyiapkan berbagai variasi materi dan aktivitas pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra.
- Kurangnya sumber daya: Terkadang, guru kesulitan mendapatkan sumber daya yang cukup, seperti buku teks, alat peraga, atau teknologi untuk mendukung pembelajaran yang berdiferensiasi.
- Perbedaan tingkat kemampuan peserta didik yang sangat besar: Jika dalam satu kelas terdapat peserta didik dengan kemampuan yang sangat bervariasi, akan sulit untuk memberikan pembelajaran yang sesuai untuk semua peserta didik.
- Kurangnya dukungan dari rekan sejawat dan kepala sekolah: Tidak semua guru dan kepala sekolah memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya TaRL dan pembelajaran berdiferensiasi.
- Waktu yang terbatas: Kurikulum yang padat dan tuntutan administrasi yang tinggi seringkali membatasi waktu yang dapat digunakan guru untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi.
Salah satu solusi untuk menghadapi
kendala guru dalam mengimplementasikan pembelajaran TaRL dan berdiferensiasi
adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, khususnya teknologi berbasis AI.
Dengan AI, banyak proses yang selama ini dianggap rumit, seperti penyusunan
administrasi guru, asesmen, pengelompokan peserta didik, dan penyediaan materi
berdiferensiasi, dapat diotomatisasi sehingga guru dapat lebih fokus pada
interaksi pembelajaran yang lebih bermakna. Dengan AI, guru bisa membuat
analisis capaian pembelajaran, TP, ATP, asesmen awal, modul ajar atau RPP,
bahan ajar, media pembelajaran, instrumen asesmen dengan lebih mudah. Guru juga
dapat menggunakan AI dalam mencari inovasi yang sesuai dengan pelajaran dan
kemampuan anak untuk mengembangkan sistem pembelajaran yang efektif.
B. Pemanfaatan
AI dalam Pembelajaran.
AI
memiliki potensi untuk digunakan dalam pembelajaran secara luas di sekolah. AI
tidak hanya bermanfaat untuk peserta didik, tapi juga untuk guru. Penggunaan AI
dapat diklasifikasikan pemanfaatannya untuk tujuan:
- Penggunaan oleh peserta didik untuk pembelajaran. Peserta didik dapat memanfaatkan AI sehingga dapat memperoleh pengetahuan secara lebih cepat dan efisien. Tugas peserta didik dapat dilakukan secara lebih optimal.
- Penggunaan oleh guru untuk proses pembelajaran. AI dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi serta kualitas pendidikan di sekolah. AI dapat mendukung guru dalam hal efisiensi administrasi, pengembangan profesional, dan komunikasi dengan orang tua peserta didik.
- Penggunaan untuk pengelolaan administrasi sekolah. Dengan AI sekolah dapat dikelola lebih efisien dan efektif.
Pada artikel ini, penulisan
difokuskan dalam pemanfaatan AI untuk mendukung tugas-tugas guru. AI bisa
dioptimalkan untuk membantu tugas-tugas guru diantaranya:
1. Pemanfaatan
AI dalam perencanaan pembelajaran;
2. Pemanfaatan
AI dalam menyusun bahan ajar dan Media Pembelajaran;
3. Pemanfaatan
AI dalam pelaksanaan pembelajaran;
4. Pemanfaatan
AI dalam asesmen pembelajaran;
5. Pemanfaatan
AI dalam tindak lanjut pembelajaran.
Daftar Pustaka:
Aprima dan
Sasmita, (2022). Analisis Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam
Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pelajaran Matematika SD. Cendikia: Media
Jurnal Ilmiah Pendidikan. https://iocscience.org/ejournal/index.php/Cendikia/article/download/2960/2305
Fauzan dan
Arifin, (2022). Desain Kurikulum dan Pembelajaran Abad 21. Kencana. Jakarta.
Krissandi,
A. D. S., & Rusmawan, R. (2015). Kendala Guru Sekolah Dasar Dalam
Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Cakrawala pendidikan. https://repository.usd.ac.id/46208/1/9498_2015_Artikel%2BCakrawala_Kendala%2BGuru%2Bdalam%2BImplementasi%2BKurikulum%2B2013.pdf.
Kristiani,
Heny, dkk. 2021. Model Pengembangan Pembelajaran Berdiferensiasi Model
Pengembangan Pembelajaran Berdiferensiasi. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementrian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republika Indonesia.
Rahayu et al., (2022). Relevansi Kurikulum Merdeka Belajar dengan Model Pembelajaran Abad 21 dalam Perkembangan Era Society 5.0. Jurnal Ilmu Pendidikan Edukatif. https://edukatif.org/edukatif/article/view/2589/pdf
Saputro, E.
W., Rakhmawati, A., & Sunarno, R. (2024). Implementasi pendekatan Teaching
at the Right Level (TaRL) melalui pembelajaran berdiferensiasi pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Surakarta. BLAZE: Jurnal Bahasa dan
Sastra dalam Pendidikan Linguistik dan Pengembangan, 2(1), 179–192. https://ejournal.unib.ac.id/index.php/pendipa94
Sindy Dwi
Jayanti, Agus Suprijono, and M. Jacky. (2023). “Implementasi Pembelajaran
Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA
Negeri 22 Surabaya.” EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 4(1): 561–66.
https://doi.org:10.62775/edukasia.v4i1.304.
Suharyani
et al., (2023). Implementasi Pendekatan Teaching At The Right Level (TaRL)
dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Numerasi Anak. Jurnal Teknologi
Pendidikan: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran. April 2023
Vol. 8, No.2. E-ISSN: 2656-1417. P-ISSN: 2503-0602. pp. 470-479. https://e-journal.undikma.ac.id/index.php/jtp/index
Tomlinson,
C. A. (2017). How to Differentiate Instruction in Academically Diverse
Classrooms. Alexandria, VA: ASCD.
Warsah, I.,
& Nuzuar, N. (2018). Analisis Kesulitan Guru Dalam Implementasi Kurikulum
2013 Di SDN 1 Sikur. Jurnal Ilmiah Widya Pustaka Pendidikan. https://jiwpp.unram.ac.id/index.php/widya/article/view/68/60.
Lanjut:
#KurikulumMerdeka
#PembelajaranKurikulumMerdeka
#AI
Komentar